Langsung ke konten utama

Postingan

Just Post : Elang

Ini adalah kisahku, kisah hidup dari seseorang yang tengah mencari sebuah arti tentang apa itu hidup. Namaku Herlambang, tapi kebanyakan orang memanggilku Elang. Sebuah nama yang takkan pernah ku lepaskan, sebuah nama yang di berikan oleh seseorang yang telah mau membesarkan ku. Aku lahir dan besar di kota pesisir pantai Laut Selatan. Aku terlahir dengan segudang penyakit. Sejak ku lahir, ku telah mengidap penyakit pneumonia akut. Hiduppun seolah tak ada arti, matipun seolah tak ada yang kan menangisi. Ku dibesarkan dengan bantuan obat yang senantiasa harus ku minum di setiap waktu. Walau kadang kala tubuh ini ingin untuk membuangnya, namun semua ini demi seseorang yang mau merawat dan membesarkanku. Seumur hidupku, ku hanya memiliki 2 mimpi. Sehat dan atau kembali, tentunya kembali kepada sang pemberi hidup. Di setiap hari ku selalu berfikir dan melakukan apa yang bisa ku lakukan untuk kebaikan dan kebahagiaan orang lain. Ku tak mau dikasihani karena penyakitku ini. Ku ingin o...

Just Post : Rugi Siapa? PSK atau LHB? (awas 18+)

Beberapa akhir ini, kita sering mendengar beberapa berita tentang dunia prostitusi yang semakin merajalela. Bahkan efek dari hal tersebut, banyak menimbulkan korban dari kalangan anak - anak yang masih dibawah umur. Jika dipandang, memanglah dunia prostitusi adalah dunia yang penuh hingar bingar. Satu kali eksekusi saja, penjaja seks bisa meraup uang sesuka mereka. Namun bukan masalah itu yang ingin saya tulis, melainkan masalah akan siapa yang dirugikan atau yang menderita antara PSK dan Lelaki Hidung Belang. Tulisan ini tidak bermaksud jorok, pornografi atau apalah sejenisnya. Namun tulisan ini asli tertuang dari diskusi langsung antara PSK, LHB dan penulis. Beberapa waktu lalu penulis sengaja mendatangi "salah satu" lokalisasi yang terletak di kabupaten Cilacap, tepatnya di kelurahan "S". Penulis sengaja membayar PSK dan LHB bukan untuk menonton adegan langsung. Melainkan membayar mereka untuk berdiskusi akan hal tersebut diatas dengan sesekali penulis mel...

Just Post : Pernikahan Dini

Terkadang sebuah pelangi kan muncul tatkala langit tengah muncul derai air hujan yang membiaskan sinar sang mentari. Terkadang pula muncul dengan melingkar tatkala sang purnama bertahtakan diatas awan. Namun kali ini pelangi yang ku lihat bukanlah pelangi seperti yang biasanya. Pelangi ini muncul di pandanganku tatkala sudut pandangku mengarah ke salah satu sudut gang sempit dari tempat dimana ku biasa mencari penyegaran diri. Pelangi ini datang saat tak ada tetesan hujan, namun pelangi ini datang membawaku hanyut dalam raut syahdu yang mengiris hati. Ingin rasanya air mata ini menetes dan jatuh membasahi paha gitar ini. Pelangi yang kini ku lihat adalah pelangi yang dulu memiliki asa dan mimpi yang tinggi. Pelangi yang dulu pernah meneteskan air matanya di depanku. Tak terasa telah sekian lamanya ku tak dengar tentang kabarnya. Tak pernah ku tahu sedikitpun tentang impiannya yang dulu menggelora. Jika dulu ia bermimpi bahwa esok kelak nanti ia kan menjadi seorang perawat, ki...

Just Post : Asa

Sebuah asa terkadang terlukiskan indah dalam sebuah bayang semu. Namun terkadang pula asa tak terlukiskan seindah dalam balutan keganasan kehidupan nyata. Untuk menuju sebuah puncak demi menggapai asa, kita harus selalu menghadapi rintangan yang mungkin terkadang kita tak yakin mampu menghadapinya. Terkadang kita harus mengalami sebuah kegagalan yang teramat menyakitkan. Kadang pula kita harus mengalami sesuatu hal yang mungkin membuat kita merasa pesimistis terhadap apa yang akan kita capai. Kita terkadang terlalu berambisi akan sebuah asa, namun tenpa kita sadari apa yang sebenarnya kita ambisikan itu adalah sesuatu yang kita sendiri belum tahu akan kepastiannya. Kita tak pernah mempertimbangkan apapun dari apa yang akan kita perbuat. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ambisi yang menggebu - nggebu, penuh dengan semangat yang membara serta penuh dengan sejuta harapan dan keyakinan. Itu semua tergambar dalam jiwa - jiwa muda yang notabene belum sepenuhny...

Gadis Bercadar

Matanya yang menatap dengan penuh pesona. Jilbabnya yang terjurai lebar hingga lengannya. Halus lembut bisik suaranya. Semua seakan membuat detakan dada yang mendesir. Ingin rasanya berbicara banyak dengannya, tapi malu rasanya diri ini tuk menyapanya. Namun hingga kini ku tak pernah melihat wajah utuhnya. Wajah indah yang mungkin melekat pada dirinya, ku tak pernah sekalipun menatapnya. Hingga kini ku hanya mampu melihatnya sebatas mata indahnya dan pelipisnya yang hitam merona. Semua itu karena ia adalah gadis bercadar. Bukan bercadarkan jilbabnya, namun bercadarkan balutan masker birunya.

Just Post : Para Pemimpi

Memanglah tugasku belum usai. Tugas mulia tuk mengantarkan mereka sampai mereka mampu berdiri tegak menatap masa depan. Namun ku yakin, ini kan menjadi semangat baru bagi mereka tuk hidup yang lebih baik. Tak ada lagi orang yang kan mengusik kehidupan mereka, hingga mereka bebas berkarya dan berekspresi. Terkadang mereka terlintas dalam bayanganku tatkala ku tengah duduk sembari menatap indahnya puncak gunung slamet yang jauh disana dan ditemani kopi hangat serta gitar tua milik bapak kos. Masih terngiang beberapa diantara mereka yang dulu sering ku usik kehidupannya. Mereka para pemimpi yang mungkin mimpinya berada pada titik kebimbangan. Terkadang ku sering teringat dengan ia yang selalu menemaniku berlama - lama di depan laptop bututku sembari bermain basket. Selalu mau membelikanku makanan kesukaanku walau jauh dan ia harus mengayuh sepeda. Tapi ia lugu, baik dan punya mimpi jadi sajana. Kala malam ia berjualan dengan berteman gerobak lapuk miliknya. Ku masih ingat betul k...

Dunia Milik Pribadi, yang Lain Ngontrak

Tembok yang berlapiskan dengan sebuah kesombongan akan hancur dalam sekejap. Hancur hanya dengan tersentuh oleh sebuah kesederhanaan belaka. Tembok yang berdiri kokoh, yang menjadi tameng bagi para pengecut untuk bersembunyi di balik sebuah kesombongan. Padahal mereka tak mengerti akan hidup, tapi mereka berteriak seakan raja dari kehidupan. Mereka mengaum tentang semangat, padahal mereka hanya memanfaatkan orang lain demi aumannya. Sungguh dunia ini gila. Seakan banyak orang yang tak tau arah hidup dan tak mengerti ia akan kemana. Namun disisi lain, banyak juga orang yang begitu yakin akan jalan yang ia tempuh, walau harus mengorbankan banyak orang lain. Begitu semangat saat mengelu - elukan dirinya nomor satu, hingga ia tak mau melihat tatkala sebernarnya orang lainlah yang menang. Tak mau melihat kebenaran hanya untuk mempertahankan reputasinya belaka. Dalam hidupnya ia hanya peduli dengan reputasi. Siapapun yang menjadi penghambatnya, ia adili. Seakan - akan dunia ini ...